SAMBUT PESTA DEMOKRASI, MENERKA ARAH POLITIK GENERASI MUDA



Judul tulisan ini saya kutib langsung dari tema acara dialog interaktif yang diselenggarakan secara live oleh 96,8 radio PERKASA FM dalam program “Warung Kopi Plus Plus” tadi malam, 4 Juli 2022, pukul 19.30-21.30 wib. Bertempat di Jepun View Resto, empat nara sumber hadir dengan kompetensinya masing-masing. Ada kakak Elis Yusniyawati, S. Sos, M.I.Kom, dosen sekaligus pengamat politik yang cantik, Juga mas Nurudin, M. Pd., perwakilan parpol, dan Muhammad Rizal Rifa’i, perwakilan mahasiswa yang oke dua-duanya. Tidak lupa dipandu oleh host legendaris, dengan suaranya yang merdu mendayu, mas Faris Ramadhan.

Kalau saya jangan ditanya, tidak ada bagus-bagusnya. Satu-satunya kelebihan saya adalah produksi suara yang luar biasa cempreng mentereng. Saya saja horor dengarnya, apalagi orang lain ya. Saya jadi hawatir, jangan-jangan para pendengar kemarin itu ada yang sakit telinga sepulangnya dari acara. Gara-gara terkena paparan radiasi suara saya selama dua jam. Tapi mudah-mudahan tidak ya. Aamiin.

Berdasarkan judul diatas, saya ingin mengulas secara spesifik peran mahasiswa dalam pemilu/politik, dari sudut pandang penyelenggara. Pertama, mahasiswa harus memahami terlebih dahulu tentang pentingnya pemilu/politik dalam sistem demokrasi kita, sehingga mereka bisa mengambil peran sebaik-baiknya. Selain itu, mereka juga harus tahu, tindakan kongkrit apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, untuk meneguhkan posisinya sebagai agen of change. Agen perubahan, dengan segala idealismenya, yang akan menjadi calon-calon pemimpin dimasa depan.

Berikut adalah data dari KPU Kabupaten Tulungagung tentang jumlah partisipasi dalam pemilu tahun 2019 yang diklasifikasikan sebagai pemilih muda. Pada usia 17-20 tahun, ada 66. 401 pemilih. Usia 21-30 tahun, ada 148. 296 pemilih. Dan, usia 31-40 tahun, ada 172.382 pemilih. Jumlah DPT saat itu adalah 852.570 pemilih, maka, jumlah total pemilih muda dengan rentang usia 17-40 tahun sebanyak 387.079 pemilih, atau 45, 4 persen dari total DPT yang ada. Jumlah yang menurut saya cukup besar itu, bisa menggambarkan bahwa generasi muda saat itu cukup berperan aktif dalam penyelenggaraan pemilu.

Dari data diatas, bisa dilihat bahwa jumlah pemilih muda pada rentang usia 21-30 tahun sebesar 17,4 persen dari total DPT. Dan, mahasiswa masuk kategori pemilih pada rentang usia ini. Nah, sekarang, bagaimana mahasiswa mampu melihat deretan angka ini tidak hanya sebatas dokumentasi KPU saja. Namun, sebagai modal awal untuk meningkatkan lagi peran sertanya pada pemilu serentak tahun 2024 mendatang. Mahasiswa bisa memilih untuk menjadikan perannya ini biasa-biasa saja, atau memaksimalkannya menjadi luar biasa. Pilihan itu tentu ada ditangan mahasiswa itu sendiri.

Partisipasi politik yang dilakukan oleh pemilih muda, termasuk didalamnya mahasiswa di tahun 2019 kemarin tentu patut kita apresiasi. Kita juga harus mengakui bahwa mereka sudah memiliki kesadaran politik yang lebih baik daripada sebelumnya.  Mereka mau menyalurkan aspirasinya dengan datang ke TPS untuk mencoblos. Namun, saat mahasiswa memilih untuk membatasi dirinya hanya sebagai pemilih di TPS saja, maka, peran ini akan terasa biasa saja.

Lalu bagaimana caranya memaksimalkan peran mahasiswa menjadi luar biasa. Dari sini mahasiswa bisa mulai dengan menjadi relawan-relawan demokrasi.  Siap meningkatkan kapasitas dirinya melalui forum-forum diskusi, atau kajian. Sehingga bisa menyebarluaskan nilai-nilai dan pengetahuan yang dimilikinya untuk membangun diskusi politik yang lebih besar lagi. Yang awalnya hanya didalam kelas, menjadi lintas kelas, lintas fakultas, bahkan lintas kampus. Semakin banyak komunitas yang terpapar oleh diskusi politik mahasiswa, tentu akan semakin banyak menumbuhkan sikap dan kesadaran politik juga.

Sebagai contoh, bagaimana jika mahasiswa UIN SATU Tulungagung yang jumlahnya ribuan itu pulang kerumahnya masing-masing, dengan membawa sikap politik, dan berbagai informasi terkait, untuk disampaikan minimal kepada keluarga inti saja, bayangkan dampak luar biasa yang bisa timbul karenanya. Informasi akan lebih mudah diterima. Lebih cepat menumbuhkan kesadaran tentang betapa partisipasi politik itu sangat penting. Betapa menjadi pemilih cerdas itu adalah keharusan. Dan betapa, peran memberi sosialisasi dan pendidikan terhadap pemilih bukan hanya tugas KPU saja, tetapi semua pihak, termasuk mahasiswa. Disinilah peran mahasiswa menjadi sangat luar biasa.

Peran kongkrit lain yang bisa dilakukan oleh mahasiswa dalam penyelenggaraan pemilu yaitu; 1) menjadi penyelenggara, mulai dari KPU, BAWASLU, atau badan adhoc dari keduanya, dan DKPP, 2) menjadi peserta pemilu, sebagai pengurus partai, atau yang dicalonkan oleh partai, 3) menjadi pemilih cerdas; sadar pemilu, tahu yang dipilihnya, dan tidak mudah diintimidasi oleh siapapun untuk merubah pilihan. Pastikan juga, kalian sudah terdaftar sebagai pemilih, dan punya kelengkapan administrasi berupa E-KTP, atau surat kependudukan lainnya yang disahkan oleh Dispendukcapil, saat hari pemungutan suara nanti.

Kedua, ibarat gayung bersambut, KPU sebagai penyelenggara pemilu dengan segala tugas dan wewenang yang dimilikinya, tentu tidak akan bisa meraih sukses sendirian. Semua akan lebih mudah dengan dukungan dari banyak pihak. Peran serta yang masif dari seluruh stake holder, pasti akan mempermudah kerja-kerja KPU, dan membantu memperluas jangkauan sosialisasi KPU kepada para calon pemilih sehingga berkorelasi terhadap berkurangnya jumlah gerakan golput.

Meskipun, tidak memilih adalah hak setiap warga negara yang dijamin undang-undang, namun saya juga sepakat bahwa golput tidak boleh dijadikan pilihan karena; 1) DPT disusun oleh KPU untuk melindungi hak pilih setiap warga negara, lalu kenapa disia-siakan. 2) KPU mempersiapkan pemilu sedemikian rupa dengan mengorbankan waktu, tenaga, juga biaya yang sangat mahal. Mencapai puluhan trilyun.  Jadi tidak alasan bagi siapapun untuk tidak menyalurkan hak pilihnya dengan alasan yang tidak bisa dibenarkan. Dan golput tidak mencerminkan sikap sebagai warga negara yang bertanggungjawab.

 

KPU, 5 Juli 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IT’S ME NOT HER