IT’S ME NOT HER

 


Susanah, nama yang disematkan sejak kecil padaku, seorang bayi perempuan yang lahir dari rahim seorang istri bernama Mariyam, yang bersuamikan Bapak Lamidi. Yah, beliau berdualah orangtuaku. Menurut Bapak, nama Susanah dipilih karena saat itu lagi tenar-tenarnya film yang dibintangi aktris paling terkenal dijamannya, bahkan menjadi legenda sampai saat ini yaitu Susana, si ratu horor.

Protes sempat ku layangkan saat itu pada bapak, kenapa ada huruf ‘H’ diakhir namaku, padahal nama aktris terkenal yang menjadi inspirasi bapak itu tidak ada ‘H’ nya. Beliau menjawab, itu tidak disengaja, karena tau-tau akta lahirnya ya seperti itu jadinya. Baiklah, seperti itulah penerimaanku pada akhirnya.

Sejak kecil, aku adalah tipe anak yang menyukai kegiatan teknis dan olahraga. Saat SD aku sudah ikut tim bola voli di sebuah Sekolah Dasar yang lumayan diperhitungkan saat itu, meski hanya di tingkat kecamatan. Bermain voli menjadi olah raga favoritku sampai saat ini, meskipun sebenarnya semua olahraga aku suka, dan aku bisa.

Di rumah, meski aku perempuan, bapak tidak segan-segan mengajariku nyetir mobil dan truk sejak SMA. Aku sering menemani bapak saat melakukan perjalanan untuk menggantikan beliau menyetir, atau saat bekerja mengangkut batu koral dengan truk “engkel” miliknya. Aku juga dengan mudah diperkenankan bapak saat meminta ijin untuk ikut kegiatan ekstra beladiri, yakni pencak silat dan karate. Bahkan beliau juga beberapa kali turut menemani dan mengantarkanku saat ada kegiatan pencak silat dimalam hari.

Meski dibesarkan dalam keluarga yang bisa dibilang kolot dalam hal tertentu, namun aku bersyukur bapak itu termasuk orang yang mau mendengarkan aspirasi atau keinginan dari anak-anaknya, walaupun harus melalui diskusi yang panjang terlebih dahulu.

Aku anak kedua dari 4 bersaudara. Kakak laki-lakiku hanya bisa bersekolah sampai tingkat SMA saja. Dari situ, aku merasa harus bisa sekolah lebih tinggi darinya, dan perguruan tinggi menjadi tujuanku. Akhirnya aku bahagia diperbolehkan kuliah, meskipun dengan syarat dan ketentuan berlaku. Karena, kalau menuruti kehendak orangtua, sejak lulus SMA aku maunya dinikahkan saja, buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya jadi ibu rumah tangga juga, alasannya.

Aku tipe orang yang jarang merasakan kecewa secara mendalam atas seseorang atau suatu hal. Bukan karena aku tidak pernah mengalami kegagalan, atau karena aku tidak pernah disakiti orang, atau mungkin tidak pernah diuji oleh Tuhan, bukan, tetapi karena menurutku perasaan sedih, kecewa, senang atau bahagia itu selalu ada alasannya. Semua ada sebab akibatnya, sehingga aku tidak pernah memelihara rasa kecewa itu terlalu lama. Ada kalanya saat rasa kecewa itu hadir, aku terbiasa mengekspresikannya dengan bicara. Karena dengan berbicara hati merasa lega, dan perlahan kekecewaan itu akan hilang dengan sendirinya.

Saat aku harus menuruti keinginan orangtua untuk berkuliah ditempat dan jurusan yang tidak sesuai dengan harapan, aku berkata “baiklah”, daripada tidak kuliah. Saat aku tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang yang diinginkan, ya sudahlah, mungkin pekerjaan ini yang akan memberiku pengalaman, dan akan mengantarkanku pada cita-cita suatu hari kelak. Saat aku merasa bahwa kehidupanku tidak seberuntung teman-teman yang lainnya, ya sudahlah, pasti Alloh punya rencana yang lebih indah dimasa depan.

Satu hal yang mungkin sangat berpengaruh dalam pembentukan karakterku sebagai pribadi yang punya kesadaran tinggi atas suatu hal, dan bisa memaknai kehidupan ini sebagai sesuatu yang memang diciptakan, dan semua akan kembali kepada penciptaNya adalah; bahwa kami empat bersaudara semuanya dibekali dengan ilmu agama yang baik, masing-masing dari kami wajib mengenyam pendidikan Pondok Pesantren sejak dini, yakni mulai lulus Sekolah Dasar, yang berarti sejak duduk di bangku SMP kami harus tinggal di Pondok Pesantren minimal selama 3 tahun. Setelah itu, kami diberi kebebasan untuk mondok lagi atau tidak. Dan itulah yang paling aku syukuri sampai hari ini.

Punya keluarga bahagia, anak yang sholih-sholihah, pekerjaan yang menjanjikan, tentu menjadi harapan setiap manusia, termasuk diriku. Namun pada akhirnya, semua itu hanyalah peran yang sudah ditakdirkan untuk kita sejak dalam kandungan. Menjadi ketua KPU Tulungagung adalah peran yang sekarang harus aku mainkan. Dan menurutku, ini bukanlah pencapaian, tetapi justru beban. Beban yang harus dipertanggungjawabkan, secara moral dan profesional, tidak hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada masyarakat dan Lembaga. Jadi, Siapapun kita, dan bagaimanapun kehidupan kita, tidak ada yang boleh kita banggakan karena semua itu hanya titipan. Tidak ada yang boleh kita sombongkan karena ada Tuhan Yang Maha Besar.

Media Center KPU Tulungagung, 19 Februari 2022


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini