Roller Coaster Perjalanan Hati

Bagiku, dua ribu dua puluh tiga, adalah tahun yang luar biasa berkesan. Ibarat film, menorehkan cerita dengan beragam genre penuh warna. Setiap episodenya tersaji acak tak terduga. Kadang seperti drama korea, romantis dan penuh dengan kisah manis. Kadang juga seperti film thriller, penuh misteri dan menegangkan.  Tiba-tiba bisa jadi cerita komedi yang penuh tawa dan canda, membahagiakan banyak orang. Tak jarang seperti film laga, memacu adrenalin dan menguras banyak tenaga juga fikiran. Semua menjadi kisah yang berpadu penuh suka dan duka. Setiap hari tak tertebak endingnya.

Seperti berada diatas roller coaster yang sedang melaju, tidak mungkin terhindarkan tantangannya. Sesaat landai, sesaat kemudian harus turun dengan curamnya. Bisa jadi harus berputar-putar terlebih dahulu, lalu naik tiba-tiba terhentak kepermukaan. Semua berubah begitu cepatnya. Bagi yang tidak punya nyali, tentu akan berfikir seribu kali untuk mencobanya, atau memilih untuk tidak naik saja. Daripada membayangkan akan mabuk udara, atau terkena serangan jantung dadakan.

Namun, tidak seperti itu cara kerja kehidupan. Kita tidak bisa memilih untuk rehat dari takdir yang tidak berpihak, dari kondisi yang tidak sesuai harapan. Kita tidak kuasa menghindar dari kemalangan, atau membendung datangnya kebahagian. Seperti permen nano-nano yang rupa-rupa rasanya, kita hanya perlu menikmati manis, asam, asin, bahkan pahitnya kehidupan ini dengan beragam cara. Tinggal pilih saja, jalani dengan berbaik sangka, atau menyerah kalah karena putus asa. Karena, Alloh sesuai persangkaan hambaNYA.

Menaiki roller coaster terasa sangat nyata pada perjalanan spiritualku di tahun ini. Apalagi ditengah-tengah tuntutan pekerjaan yang juga sangat padat dengan segala dinamikanya. Meski belum mencapai puncak, aku merasa sudah sampai pada kualitas mental yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman hidup disepanjang nikmat usia yang sudah kujalani sampai hari ini, membawaku pada level “penerimaan” atas takdir Tuhan. Di level ini, setting hatiku seolah ter-upgrade lebih canggih dari sebelumnya. Lebih luas untuk ruang kompromi. Lebih cepat memproses pengendalian diri. Dan lebih bijak menyikapi semua yang terjadi.

Tugas kita di dunia ini adalah bermain peran. Kita adalah aktor dan aktris dari sutradara yang Maha Besar, Alloh SWT. Skenario terbaik ditulis oleh sang Maha Sempurna. Kita hanya perlu menjalankan peran itu sebaik-baiknya, dengan profesional. Untuk itu, tentu harus banyak belajar, tidak mungkin instan, dan itu tidak mudah. Karena tanpa disadari kita punya sisi antagonis yang mungkin berperan lebih dominan dibandingkan hati dan logika kita. Kita punya musuh terbesar dalam diri kita sendiri yang harus di taklukkan terlebih dahulu yakni ‘ego’ kita.

Dalam proses penaklukkan ego inilah tak jarang menimbulkan banyak goresan luka dan menyebabkan berderainya air mata. Tidak hanya pada diri sendiri, tapi mungkin juga pada orang-orang terdekat kita. Kenapa begini, kenapa begitu. Kalau bisa begini, kenapa harus begitu. Pertanyaan-pertanyaan bodoh yang terus dibisikkan ego, agar kita tidak tunduk pada hati dan logika. Terdengar dramatis memang, namun percayalah, saat semua itu terlampaui, hati kita akan seringan kapas. Jiwa kita akan sekuat baja. Kita akan menjadi pribadi yang merdeka.  Pribadi yang bebas dari intimidasi dunia.

Tentu saja, proses yang dilalui setiap orang berbeda-beda. Begitupun proses yang aku alami. Mencapai klimaksnya saat menjalankan peran sebagai ketua KPU Kabupaten Tulungagung. Sebagai seorang perempuan, seorang istri, sekaligus ibu rumahtangga, aku tidak hanya harus berkompromi dengan diriku sendiri, tapi juga dengan banyak hal diluar diriku. Sementara aku hanyalah perempuan biasa, yang bukan siapa-siapa. Tiba-tiba harus memikul tanggungjawab yang begitu besar. Memimpin sebuah lembaga setingkat eselon tiga yang tidak terbayangkan sebelumnya. sehingga banyak hal harus dikorbankan. Terutama waktu untuk keluarga.

Sebagai pimpinan, aku punya tugas dan tanggungjawab besar untuk memastikan semua tahapan pemilu dilaksanakan dengan benar dan tepat waktu. Sebagai pemimpin, aku adalah orang pertama yang harus memberi teladan, sebelum orang lain. Aku dituntut bijaksana dalam membuat setiap keputusan. Aku juga harus memastikan, semua pihak bekerja dengan nyaman, sehingga semua potensi dan kreatifitas bisa berkembang optimal. Sekuat tenaga aku berusaha mewujudkan semua citra ideal dari sosok pemimpin untuk diterapkan, agar aku benar-benar layak disebut pemimpin bukan sekedar pimpinan. 

Namun tentu saja, kondisi ideal belum tentu bisa terwujud sesuai harapan. Begitulah   cara Tuhan menghendaki kita untuk berkembang sekali lagi. Dengan memberi tantangan demi tantangan untuk diselesaikan. Mulai dari masalah kecil sampai konflik yang pelik. Mulai masalah pribadi, masalah keluarga, sampai masalah kelembagaan, baik internal maupun eksternal. Dari sana kita akan belajar banyak hal. Tidak hanya tentang keberhasilan, tapi juga tentang kegagalan, baik dari diri sendiri maupun orang lain. Dan semua tidak ada yang kebetulan. Pasti ada hikmah di balik kejadian.

Seorang pemimpin harus mau belajar. Bahkan dari orang-orang yang kita pimpin. Belajar untuk tidak anti kritik. Belajar untuk meminta maaf saat berbuat salah. Belajar konsisten antara ucapan dengan perbuatan. Dan banyak belajar hal lainnya untuk memperluas sudut pandang. Aku pernah di fase begitu dalam menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya padaku. Membalas setiap luka yang orang lain torehkan dengan setimpal. Dan aku, cenderung reaktif dalam menghadapi persoalan. Dengan belajar aku jadi tahu. Sekarang, aku mampu mengontrol semua perasaan yang tidak produktif itu. Semua sudah terkendali baik oleh hati. Begitupula caraku merespon persoalan. Lebih mengutamakan komunikasi dan solusi.

Ada satu efek samping yang bisa jadi kontra produktif bagi para perempuan yang menjadi pemimpin dalam pekerjaannya, yakni tumbuhnya jiwa maskulin dalam dirinya. Para perempuan maskulin cenderung sangat mandiri dalam segala hal. Untuk perempuan yang masih single, tentu hal itu tidak akan menjadi soal. Tapi untuk perempuan yang sudah berpasangan, hal itu bisa menjadi potensi masalah yang besar apabila tidak ada saling pengertian. Perempuan maskulin cenderung senang berdiskusi dan beradu argument. Meski tidak semuanya, mayoritas perempuan yang vokal seperti ini tidak begitu disukai oleh pasangannya.

Tidak jarang, jiwa kepemimpinan seorang perempuan terbawa sampai ke rumah.  Hal ini akan menimbulkan perasaan insecure dan salah paham bagi pasangannya. Perempuan mandiri bisa jadi justru menguntungkan laki-laki. Tapi perempuan yang argumentatif, tidak semua laki-laki bisa menerima. Perempuan yang terlalu vokal saat dirumah, bisa dianggap tidak menghormati pasangannya, berani melawan, atau bahkan menginjak-injak harga diri sang laki-laki. Padahal itu sama sekali tidak benar. Hanya perlu komunikasi dan saling pengertian saja. Kalau itu tidak terjadi, pasti akan menimbulkan konflik berkepanjangan. 

Di sepanjang proses yang aku alami, tidak jarang sisi baik dalam diriku harus berperang sengit dengan sisi buruk dari diriku yang lain. Dan semua itu sangat melelahkan. Mendekatkan diri kepada Alloh adalah kunci utama keberhasilan. Juga dukungan dari orang-orang terdekat yang menyanyangi kita. Pasangan, orangtua, keluarga, sahabat, teman, kolega, semua punya andil sesuai porsinya. Mereka adalah saksi sekaligus korban atas ketidakwarasan kita disaat yang bersamaan. Mereka adalah support system yang luar biasa. Namun tidak semua hal bisa diceritakan, atau dibagi. Ada yang cukup dirasakan dan dinikmati sendiri.

Pada akhirnya, aku dengan segala kekuranganku memilih untuk tetap optimis disemua kondisi yang kujalani. Meski rasa syukurku tidak sebesar nikmat yang kuterima sampai hari ini, namun rasa optimisme meyakinkanku akan adanya kebaikan dalam setiap takdir Alloh padaku, bahkan pada hal buruk sekalipun. Yang tersisa dalam diriku saat ini hanyalah cinta dan kasih sayang. Rasa benci, amarah, bahkan dendam, bukan lagi menjadi bagian dari diriku yang sekarang. Karena aku tidak pernah mengizinkan semua perasaan negatif itu masuk ke hatiku. Cukup singgah di kepala saja. Itupun tidak boleh terlalu lama.

Hari demi hari terlewati, bulan dan tahun silih berganti. Tak terasa, empat tahun lebih pengabdian sebagai ketua dan anggota KPU Kabupaten Tulungagung kujalani. Empat puluh satu tahun usia, telah Alloh anugerahkan secara cuma-cuma. Semakin bertambah usia dan amanah, semakin besar pula pertanggungjawaban yang harus kita bawa ke akhirat kelak. Jadi, kita hanya perlu menjadi orang baik di semua peran kita. Siapapun kita, dan bagaimanapun kehidupan kita, tidak ada yang boleh kita banggakan karena semua itu hanya titipan. Tidak ada yang boleh kita sombongkan karena semuanya milik Tuhan Yang Maha Besar.

Penyelenggara pemilu adalah pekerjaan yang sangat unik. Pekerjaan yang tidak semua orang mau dan mampu. Mulai dari melakukan rutinitas sebagaimana pekerja kantor kebanyakan, sampai benar-benar harus kerja rodi dimana tidak mengenal waktu dan hari. Apalagi saat tahapan pemilu dan pilkada dimulai. Tidak ada hari kerja, yang ada hari kalender. Seringkali harus kerja lembur sampai pulang pagi. Hari sabtu dan minggu bahkan bukan hari untuk keluarga lagi. Namun, kita hanya harus bersyukur disetiap kondisi. Bisa berproses sejauh ini, adalah kesempatan yang takkan terganti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IT’S ME NOT HER