AKU DAN PENYELENGGARAAN PEMILU
Awal mula aku berkecimpung sebagai
penyelenggara pemilu yaitu tahun 2004. Saat itu, aku masih menjadi mahasiswa
semester enam di salah satu perguruan tinggi negeri di kota kelahiranku,
Tulungagung tercinta. Kebetulan diajak oleh senior di organisasi ekstra kampus untuk
bergabung dalam tim relawan “Entry Data Situng Pemilu tahun 2004” di 19 Kecamatan.
Sesuai alamat domisili, aku ditugaskan di kecamatan Besuki. Dan aku tidak
sendiri, kami bekerja secara tim. Kami bertugas sebagai operator situng (sistem
penghitungan suara) di tingkat kecamatan, dengan honor yang cukup besar bagi ukuran
mahasiswa saat itu. Lumayan, bisa buat beli handphone
baru.
Dari situlah aku mulai tertarik menjadi
penyelenggara pemilu. Berbekal pengalamam selama menjadi operator situng, serta hasil pengamatan proses pelaksanaan pemilu yang terjadi
di kecamatan, yang terlihat sangat dinamis, aku membayangkan, sepertinya
pekerjaan ini sangat menyenangkan sekaligus menantang. Karena itu, mulailah kucari tahu apa
itu KPU, dan mulai mengikuti berita-berita terkait kepemiluan dari berbagai
media, baik media massa, televisi, maupun searching
google. Dengan sedikit pengetahuan
tentang kepemiluan, aku berharap, kelak bisa berpartisipasi, dan bisa menjadi
bagian dari penyelenggara pemilu di masa-masa mendatang.
Dalam perjalanannya, setelah
lulus kuliah di tahun 2005, mencari pekerjaan tentu menjadi tujuan sangat logis
yang ingin dicapai oleh semua pemuda-pemudi yang sudah berhasil mendapatkan gelar
sarjananya, termasuk diriku. Sebagai fresh
graduated, mencari pekerjaan tentu bukan hal yang mudah. Peluang harus
dicari, dan kesempatan sekecil apapun patut dicoba. Berbekal gelar sarjana
Pendidikan Bahasa Inggris yang aku punya, juga dengan doa dan usaha yang tidak mudah, kudapatkanlah
pekerjaan pertamaku sebagai pekerja sosial di Yayasan CESMID dalam program
“Rumah Singgah” tahun 2005-2008, sebuah program pemberdayaan dan rehabilitasi
anak jalanan yang diselenggaraan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur saat itu.
Setelah mendapatkan pekerjaan,
ternyata Alloh juga sudah menentukan garis takdirku berupa jodoh yang cepat
pula. Tak lama, setelah aku dan calon imam menjalin kedekatan, kami memutuskan
menikah tahun 2006. Selayaknya sebuah pernikahan, tentu mendapatkan momongan
menjadi harapan selanjutnya. Dan alhamdulillah, setelah tiga bulan pernikahan, kami
langsung diberi kepercayaan mendapatkan momongan. Anak pertama kami laki-laki,
lahir tahun 2007. Menginjak usianya yang kedua tahun, lahirlah adiknya di
tahun 2009, seorang perempuan. Kelahiran yang memang tidak direncana, namun
menjadi anugerah yang luar biasa, karena sudah dikaruniani sepasang anak
laki-laki dan perempuan yang sehat jasmani maupun rohani. Sempurnalah hidup
kami berdua.
Bekerja sambil mengurus dua orang
anak yang masih sama- sama balita tentu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan tenaga
dan fikiran yang ekstra untuk membagi waktu sebaik-baiknya. Beruntung punya
suami, sekaligus patner hidup yang
sangat bisa diandalkan dalam segala hal. Kami berbagi peran secara seimbang
demi tumbuh kembang anak-anak, mengingat kami sudah memutuskan hidup mandiri
sejak menikah, dan tinggal jauh dari orangtua. Sehingga kami bisa leluasa
menerapkan pola pengasuhan yang tepat untuk membesarkan anak-anak kami tanpa
campur tangan dari orangtua. Namun demikian, tentu doa orangtua pasti selalu
menyertai kami, dan dukungan baik moril maupun materiel dari keluarga besar juga
kami dapatkan.
Dengan kondisi yang demikian, aku
menepikan sejenak keinginan untuk menjadi penyelenggara pemilu di tahun 2009.
Ada skala prioritas yang harus aku pilih, yakni mendampingi masa balita
anak-anak sampai mereka siap memasuki usia sekolah taman kanak-kanak, sambil mencari
alternatif pekerjaan yang sesuai. Ternyata, mempunyai gelar sarjana itu, tidak serta
merta membuat seseorang bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Memiliki ijazah
tidak menjamin kita bisa bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan. Apalagi jika
pergururan tinggi atau jurusan yang dipilih tidak sesuai dengan yang dicita-citakan.
Contohnya aku. Sejak kecil ingin menjadi insinyur, dan berharap saat dewasa nanti
bisa kuliah dijurusan teknik, atau pilihan lainnya di sosial politik. Namun, garis tangan justru
membawaku menjadi sarjana pendidikan. Alhamdulillah masih bisa kuliah.
Dari semua pengalaman yang ada, riwayat
pekerjaan yang kumiliki sebagai pendidik secara formal atau guru ternyata sangatlah
minim. Secara passion, aku memang lebih
tertarik dengan pekerjaan yang bersifat mobile,
yang memungkinkan banyak berinteraksi dengan berbagai pihak dan bidang. Selain sebagai
pekerja sosial, aku pernah bergabung di Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil
(PINBUK) Tulungagung, sebagai pendamping lapang BMT dan UMKM tahun 2012-2015. Pernah
juga menjadi Fasilitator PBDT (Pemutakhiran Basis Data Terpadu) Badan Pusat
Statistik Kabupaten Tulungagung tahun 2015, dan Pengawas Lapangan Sensus Ekonomi tahun 2016.
Menjadi pendamping sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Kementrian Sosial Republik Indonesia tahun 2016-2019, serta Fasilitator PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) Dinas Sosial Kabupaten Tulungagung tahun 2018, adalah pengalaman lainnya sebelum aku dilantik sebagai anggota KPU Kabupaten Tulungagung hingga saat ini. Dari berbagai pengalaman diatas, tentu aku tidak serta merta melupakan bahwa aku mempunyai ijazah pendidikan. Aku berfikir, bagaimanapun apa yang sudah kudapatkan selama empat tahun kuliah bisa kuterapkan agar bermanfaat. Karena itulah, disela-sela kegiatan yang lain, aku juga pernah mengajar di salah satu sekolah negeri yang ada di Tulungagung, juga sempat memberi les tambahan bahasa inggris secara prifat di beberapa tempat.
Kesempatan menjadi penyelenggara datang lagi saat digelarnya
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tulungagung dan Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur (Pilgub) Jawa Timur tahun 2013, yang mana saat itu tahapannya langsung
beririsan dengan tahapan Pemilu DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden tahun
2014. Kebetulan anak-anak juga sudah mulai sekolah, sehingga lebih mudah dikondisikan. Dengan pengalaman kerja yang sudah aku miliki, aku memberanikan diri untuk mengikuti
rekrutmen badan adhoc yang
diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Tulungagung, dan berhasil menjadi salah satu
penyelenggara sebagai Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), tepatnya di kecamatan
Besuki bersama empat orang lainnya.
Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK)
adalah salah satu badan adhoc yang
dibentuk oleh Komisi Pemilihan Umum ditingkat kabupaten/kota, yang bertugas untuk
menyelenggarakan pemilu di tingkat kecamatan. Beranggotakan lima orang, empat
sebagai anggota, dan satu orang sebagai ketua. PPK bertempat di ibu kota
kecamatan. Biasanya disediakan tempat khusus oleh pihak kecamatan, sebagai
salah satu bentuk tanggungjawab fasilitasi terkait pemilu oleh pemerintah
daerah. Atau, PPK bisa juga menyewa tempat yang dekat dengan kecamatan apabila
kondisi kecamatan memang tidak memungkinkan. Dalam kerjanya, PPK dibantu oleh sekretariat,
yang para personilnya diambil dari pegawai yang ada di kecamatan tersebut.
Seperti dugaanku sebelumnya, ternyata
menjadi penyelenggara pemilu itu memang sangat menyenangkan sekaligus
membanggakan. Bisa diibaratkan saat kita menjadi seorang atlit nasional yang
bertanding dengan membawa nama negara, kurang lebih seperti itulah rasanya. Bagaimana
tidak, pekerjaan sebagai penyelenggara pemilu menuntut kita bekerja penuh waktu
selama dua puluh empat jam. Kapanpun dan di manapun kita harus senantiasa siap
sedia apabila ada instruksi dari pimpinan untuk segera dilaksanakan. Tidak
peduli pagi, siang, bahkan malam. Tidak hanya menuntut waktu dan tenaga kita,
namun juga profesionalitas dan integritas kita sebagai penyelenggara untuk bisa
mensukseskan hajat lima tahunan negara kita ini secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Menjadi penyelenggara pemilu di
tingkat kecamatan banyak memberi dampak positif untukku. Tidak hanya tentang
besarnya ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan, tetapi juga banyaknya relasi
yang terbangun, hasil dari interaksi yang memang terjalin selama proses
penyelenggaraan itu sendiri. Dari aku yang hanya berlatar belakang dunia sosial
dan pendidikan saja, menjadi mengenal lebih luas lagi tentang dunia politik,
birokrasi dan pemerintahan. Dan sekali lagi, semua itulah yang membawaku pada
akhirnya menjadi bagian dari keluarga besar KPU Kabupaten Tulungagung saat ini. Menjadi penyelenggara pemilu ditingkat kabupaten, hingga diberi amanah oleh teman-teman anggota yang lain untuk menjadi ketua KPU sampai
2024 mendatang.
KPU Tulungagung, 29/06/2022

Alhamdulillah. Manfaat n Barokah
BalasHapusAamiin 🤗🤗🤗
BalasHapus