BERBEDA_BEDA TETAPI SAHABAT

Siapa yang tidak punya sahabat, setiap orang pasti memilikinya. Arti sahabat menurutku adalah seseorang atau mungkin beberapa orang, yang memiliki kedekatan secara emosional. Satu sama lain saling merasa nyaman, saling berbagi perasaan. Dengan sahabat kita bisa berkeluh kesah. Saling menyemangati dan mengingatkan. Saling tolong-menolong. Tak jarang juga saling bertengkar. Bersama sahabat kita bisa menjadi diri sendiri, menjadi apa adanya kita, tanpa harus berpura-pura.

Umumnya, yang bisa disebut sebagai sahabat itu tidak banyak. Mungkin satu atau beberapa orang saja.  Persahabatan itu biasanya terjalin sejak masa sekolah. Di setiap jenjang kita bisa menemukan sahabat. Mulai dari sekolah dasar, sampai perguruan tinggi. Ada juga yang bersahabat sejak kecil karena bertetangga atau bersaudara. Ada juga yang menemukan sahabat saat ditempat kerja, atau dimana saja. Namun satu hal yang pasti, bahwa persahabatan itu tidak memandang kasta, tahta, maupun agama.

Persahabatan tidak bisa diukur dari kebersamaan secara fisik saja. Yang namanya sahabat tidak harus selalu bersama-sama dalam waktu yang lama. Ada kalanya persahabatan memang harus terpisah karena jarak dan ruang yang berbeda. Ada yang sudah bersahabat sejak lama. Sejak kecil sampai tua masih langgeng saja, bahkan sampai besanan juga. Ada juga yang bersahabat selama disekolah saja, dan berlanjut lewat pena, karena harus melanjutkan sekolah ditempat yang berbeda. 

Masa SMA adalah masa yang paling indah, katanya. Dimasa itu jugalah, kami, beberapa remaja yang masih disebut gadis saat itu, dipertemukan dan menjalin persahabatan sejak kelas satu. Kami termasuk murid yang baik disekolah, ya setidaknya tidak pernah membuat masalah, paling cuma bolos saja, sesekali. Kami juga termasuk murid yang mudah bergaul dan aktif, sehingga banyak menjalin pertemanan, tidak hanya dengan teman seangkatan, tetapi juga dengan teman satu sekolah lainnya. Karena itu, setelah lulus sekolah, kami berinisiatif mengadakan reuni setiap hari raya.

Berawal dari reuni kelas, berkembang menjadi reuni lintas kelas. Seiring waktu, antusiasme teman-teman semakin berkurang untuk datang ke reuni. Hal itu bisa dimaklumi, karena beberapa dari kami ada yang sudah berkeluarga. Ada juga yang memang sudah hijrah keluar daerah, sampai ke luar negeri, sehingga putus komunikasi. Akhirnya, kita bersepakat untuk membubarkan kegiatan reuni, dan menggantinya dengan kegiatan arisan setiap bulan.

Seolah terseleksi secara alamiah, tersisalah kami ber-empat belas, bertahan sampai sekarang. Semuanya berjenis kelamin perempuan. Sudah tidak bisa disebut gadis lagi, karena sudah beranak-pinak. Kita memberi nama grup arisan “Sahabat Dunia Akhirat”. Grup emak-emak yang tetap merasa kece, diusianya yang sudah hampir berkepala empat. Bahkan ada juga yang anaknya sudah hampir lulus SMA. Prinsip kita adalah menolak tua, namun tetap taat kepada ajaran agama, sesuai nama grup kita, eaaaaaa.

Tidak terasa, persahabatan yang terjalin diantara kami sudah berlangsung lebih dari 20 tahun. Sejak tahun 2001 sampai sekarang, kami masih rutin bertemu satu bulan sekali untuk sekedar melepas rindu. Kami tidak hanya dekat secara personal saja, bahkan masing-masing dari keluarga kami juga saling mengenal, dan sudah seperti saudara. Tak jarang, saat arisan tiba, kami datang bersama keluarga, minimal dengan pasangan atau anak-anak saja.

Dulu, kami dipertemukan dengan karakter yang berbeda-beda. Sekarang, kami juga masih bersama-sama, namun dengan tingkat pendidikan dan profesi yang berbeda-beda pula. Baik dulu maupun sekarang, kami tetaplah orang-orang yang sama. Orang-orang yang menjunjung tinggi toleransi, dan kebersamaan. Meskipun ada yang ceriwisnya minta ampun, semua diatur sedetil mungkin, dan harus tampak sempurna. Kami sudah terbiasa.

Ada yang baperan luar biasa, semua hal dimasukkan hati. Mempersulit diri sendiri. Ada juga yang super santai. Paling cuek dengan pendapat orang dan tidak bisa dandan, tapi sangat menyukai olahraga. Grup kami semakin berwarna dengan kehadiran Bu Hajah yang paling glowing diantara kami, yang selalu ceria dan paling dewasa. Ada yang fashionable juga, penampilannya selalu terkini, maklum sambil promosi dagangan. Ada yang ahli masak, bikin apa saja pasti enak. Yang ahli bergaya juga tidak mau ketinggalan. Cita-cita pingin jadi model, apa daya nasib berkata lain, jadi guru saja. 

Disamping semua karakter yang random tadi, hadir juga sebagai penyeimbang. Sosok Ustadzah dan Bu Nyai yang tidak pernah absen mengaji dan mengajar di mushola atau madrasah dekat rumah. Ada juga Sosok keibuan yang pembawaannya selalu kalem, tidak banyak tingkah. Dan, ada satu karakter lagi yang tidak banyak dimiliki oleh sembarang orang. Ibarat pepatah mengatakan “diam itu emas”, seperti itulah dia. Dia akan muncul dengan tiba-tiba, dan hanya akan berkomentar saat benar-benar dibutuhkan saja. Bukan diam-diam menghanyutkan.

Entah mengapa, justru semua perbedaan itulah yang menyatukan kami. Terbukti masih langgeng sampai saat ini. Kalau banyak grup arisan lain yang disebut kaum sosialita, alias golongan para orang kaya, atau bisa jadi sok kaya. Tentu, kami bukan termasuk didalamnya. Kami sama-sama meniatkan persahabatan ini untuk tujuan yang baik, karena Alloh semata. Apapun yang kami lakukan adalah untuk kebaikan bersama. Arisan hanya salah satu sarana saja agar silaturahmi tetap terjaga. Selebihnya, satu sama lain saling instrospeksi dan menasehati.

Tidak bisa dipungkiri, adakalanya jiwa emak-emak yang rempong ini, bisa heboh sendiri hanya karena urusan seragam. Tidak jarang kami berbeda pendapat dan berdebat. Semuanya mewarnai kebersamaan kami sehari-hari, baik saat bertemu langsung, maupun komunikasi di grup whatsapp. Banyak hal yang bisa dibahas, dari masalah penting sampai yang tidak penting sama sekali. Mulai bumbu dapur, sampai masalah politik tanah air. Bahkan gosip para artis, dalam dan luar negeri  kami juga mengikuti. 

Satu-satunya persamaan kami adalah, bahwa kami semuanya terbiasa hidup sederhana, dan apa adanya. Meskipun ada beberapa diantara kami yang secara ekonomi sudah sangat mapan, karena sukses sebagai pengusaha atau wiraswasta, atau yang lainnya, namun hal itu tidak menjadikan mereka merasa lebih tinggi dari yang lain. Justru mereka sangat berkontribusi positif bagi kelangsungan grup. Karena tak jarang jadi donatur kegiatan, dan subsidi barang. Sesuatu yang tentu patut kami syukuri.

Alhamdulillah semua berperan sesuai porsinya. Sebagaimana semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi satu juga. Begitu pula persahabatan kami, berbeda-beda tetapi satu tujuan. Sahabat sejati tidak akan pernah berkurang, justru bertambah. Sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkan, justru membersamai. Dalam suka maupun duka, baik susah maupun senang. Persahabatan sejati didasarkan atas satu tujuan, yaitu sama-sama berproses untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bahagia bersama-sama didunia dan diakhirat. aamiin.   

 

Wed (06042022)

 

Komentar

  1. Aamiin..... So sweet banget tibak e kita, lanjut yo lek nulis , semangat sehat selalu, kami tunggu tiap karyamu

    BalasHapus
  2. Aamiin..terharu bgt..lnjutkn karya tulismu sahabat berharap semakin bnyk cerita seiring jlnnya senja usia kita

    BalasHapus
  3. Setiap detik dalam perjalanan persahabatan kita adalah sebuah anugerah yang istimewa.....

    BalasHapus
  4. Sio.. mantap jiwa...perlu juga nanti belajar nulis sama mbak susan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih belajar kawan , siap menerima kritik dan saran ☺️πŸ™

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

IT’S ME NOT HER