Di dalam pesta resepsi yang
digelar pada minggu siang, terdengar alunan sebuah lagu yang merdu mendayu. Dinyanyikan
secara duet oleh salah satu grup orgen tunggal yang memang menjadi salah satu pengisi
acara saat itu. Dalam hati berkata kok enak ya lagunya, apa judulnya, siapa
penyanyinya. Keesokan harinya, aku lakukan pencarian lewat youtube, dan ketemulah. Langsung saja kuputar, sampai berulang-ulang.
Ternyata judulnya “Bidadari Cinta”.
Setelah beberapa kali mendengarkan, lagunya menceritakan tentang sepasang
kekasih yang saling mencintai. Sang lelaki merasa bersyukur kepada Alloh karena
telah dipertemukan dengan seorang perempuan yang baik hati. Begitu juga sebaliknya, sang perempuan rela
menerima sang pujaan hati apa adanya, bukan karena ada apa-apa nya. Keduanya berharap,
mereka berjodoh sampai maut memisahkan, bahkan menjadi bidadari dan bidadara
cinta masing-masing di surga Nya.
Sebuah lagu yang menggambaran
indahnya hubungan percintaan. Harapan bagi semua insan yang berpasang-pasangan.
Berharap bisa menikah, hidup bahagia, dan menua bersama. Berjanji untuk bisa menerima
kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangannya. Meyakini akan bisa melalui
bahtera rumah tangga dengan aman. Percaya bahwa segala permasalahan pasti akan ada
jalan keluarnya. Segala rintangan yang akan menghadang pasti bisa dihadapi bersama-sama.
Namun, realita tak seindah bayangan. Tidak semua hal yang masih
bersifat konsep dikepala kita, bahkan kita yakini pula dihati, akan dengan
mudah direalisasikan dalam kehidupan nyata. Menerima kekurangan dan kelebihan seorang
pasangan adalah sesuatu yang manis saat diucapkan, namun sangat berat pada
prakteknya, seperti beratnya rindu Dilan pada Milea.
Kelebihan dari pasangan tentu
menjadi anugerah bersama. Siapapun pasti dengan senang hati menerimanya. Lain hal
nya dengan kekurangan pasangan kita. Boleh jadi kita bisa menerimanya diawal,
karena belum tahu semuanya. Namun, semakin lama, setelah hidup bersama, semakin
tahu karakter masing-masing, semakin sempurnalah pemahaman kita atas kekurangan
masing-masing pasangannya.
Yang dibutuhkan dalam setiap
hubungan, agar mudah menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya adalah komitmen
dan kompromi. Tidak hanya dari salah satu pihak saja, tetapi juga keduanya. Waktu
yang akan menguji. Waktu yang akan membuktikan, sekuat apa komitmen masing-masing
dari kita, dan seluas apa, hati yang tersedia untuk ruang kompromi bersama pasangan kita. Sehingga hubungan yang langgeng benar-benar terwujud nyata.
Banyak pasangan yang terlihat harmonis
diawal, namun tiba-tiba berpisah, bahkan dengan cara yang tidak baik-baik saja.
Perpisahan bisa terjadi karena bermacam-macam alasan. Ada yang karena alasan beda prinsip. Ada juga yang berpisah hanya
karena beda selera. Semua bisa terjadi, semua mungkin terjadi. Disitulah pentingnya
peran komitmen dan kompromi. Tanpa dua hal itu, status pernikahan hanya sakral diatas
kertas saja. Hubungan terjalin tanpa makna, rentan perpisahan.
Dengan komitmen, ada tanggung
jawab untuk mempertahankan sebuah hubungan sekuat tenaga. Tentu dengan batasan-batasan
yang sudah dibuat, dan disepakati bersama. Tidak akan mudah diputuskan atau dirusak
hanya karena alasan klise. Alasan yang sebenarnya hanya menuruti ego semata. Kecuali
sudah melanggar batasan yang ada. Sebagai contoh; perpisahan akan terjadi saat pasangan melakukan kekerasan
dalam rumah tangga, maka tidak ada lagi toleransi.
Dengan kompromi, ada komunikasi
dua arah. Ada alternatif solusi dalam menangani masalah, seberat apapun masalah
itu. Bahkan saat komitmen itu sendiri sudah dilanggar, masih ada kesempatan
untuk memperbaikinya. masih ada seribu cara yang dimungkinkan untuk
mengatasinya. Masih ada benteng terakhir untuk pertahanan, sebelum benar-benar porak
poranda. Jadi, saat kita sudah memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan, pastikan
bahwa kita sudah berjuang, dan memang benar-benar sudah tidak ada lagi
harapan.
Semoga kita semua adalah bidadari cinta bagi pasangannya masing-masing di surgaNya, aamiin.
(07/03/2022)
Komentar
Posting Komentar